Sabtu, 12 September 2015

effect of interpersonal relationship


Pada era globalisasi ini mayoritas orang mempunyai account di media sosial. Seperti facebook, twitter, instagram, path dan masih banyak lagi. Pengguna Internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang, dari angka tersebut 95% menggunakan internet untuk mengakses jejaring social (Media Pewarta Teknologi Informasi Indonesia, 2013). Menurut Selamatta Sembiring,jejaring sosial yang sering diakses masyarakat Indonesia yaitu Facebook dan Twitter,  sehingga Indonesia mendapatkan peringkat ke Empat pengguna internet terbesar setelah USA, Brasil, dan India  (Media Pewarta Teknologi Informasi Indonesia, 2013).
Uraian tersebut dapat membawa dampak positif serta negatif bagi masyarakat Indonesia. Banyak penelitian yang mengungkapkan berbagai dampak negatif dan positif bagi penggunanya. Secara umum dampak negatif dari media sosial antara lain menimbulkan efek ketergantungan. Secara tidak langsung kita dituntut untuk meluangkan waktu yang lebih, bahkan terkadang kita bisa menghabiskan waktu serta menimbulkan rawan pencurian data pribadi dengan adanya hacker.
Selain itu terdapat dampak positif antara lain memudahkan pengguna membentuk jaringan sosial. Misalnya, bisa berinteraksi dengan teman lama yang jauh atau teman yang saat ini tanpa ada batasan jarak dan waktu, meskipun tidak bertatap muka secara langsung. Bahkan kita dapat berinteraksi dengan orang yang belum pernah berjumpa namun dipertemukan pada jejaring sosial.  Selain itu media sosial dapat digenakan untuk mempromosikan barang yang dijual atau bidang jasa lainnya dan lain sebagainya.
Menurut Dir Reskrimsus Subdit Mondev unit cybercrime Polda Jatim,tahun 2012 hingga bulan Mei tercatat 15 kasus di Jatim. Ke-15 kasus itu yang paling menonjol adalah kasus penipuan belanja online dan penghinaan melalui sosial media Facebook (FB). Sementara kasus lainnya berupa kesusilaan, pengancaman serta hacker (Khariri, 2013).
Tak ada yang salah memang jika orang Indonesia konsumtif terhadap jejaring sosial. Yang menjadi problem adalah perubahan gaya komunikasi dan karakter masyarakat yang berkembang ke arah narsis dan alay, bukan komunikasi yang edukatif dan informatif.  Kini jejaring sosial lebih menjadi suatu media/alat untuk mencari popularitas dan eksistensi belaka.
Berbagai status dan twit alay menghiasi timeline setiap waktu. Mulai dari yang penting sampai yang sama sekali tidak penting. Diskusi-diskusi di forum online dengan komentar-komentar sarkastik juga kerap menghiasi jejaring sosial. Kalimat-kalimat satir pun bertebaran bebas di sosial media bahkan kadang mengundang kontroversi.
Ada satu fenomena unik yang bisa diamati disini, yaitu kebebasan berbicara. Mereka yang di dunia nyata takut berpendapat seakan mendapat ruang untuk berekspresi lewat jejaring sosial. Tapi di sisi lain, karena terlalu bebasnya berekspresi sampai-sampai orang lupa etika berpendapat. Kata-kata bullying tak jarang muncul menghiasi kolom komentar di sebuah forum online. Tanpa basa-basi dan memperhitungkan dampak negatif dari pendapat sarkastik tersebut.
Ketika di facebook banyak orang yang berani berbicara, mengomentari status secara frontal. Bahkan pada saat di sosial media orang tersebut bisa dibilang cukup asyik. Namun pada dunia yang sebenarnya, apabila dalam berdiskusi tidak berani megemukakan pendapat. Orang tersebut cenderung pasif.
Ketika seseorang asyik mengobrol dengan temannya di facebook, meskipun belum pernah bertemu didunia nyata, orang tersebut merasa dekat dengan lawan bicaranya karena mereka merasa ada kecocokan dalam berbicara. Maka pada suatu ketika orang tersebut akan menjalin hubungan yang lebih lanjut dengan ingin bertemu langsung.

0 komentar:

Posting Komentar