Pada era globalisasi ini mayoritas orang mempunyai account di
media sosial. Seperti facebook, twitter, instagram, path dan
masih banyak lagi. Pengguna Internet di
Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang, dari angka tersebut 95% menggunakan
internet untuk mengakses jejaring social (Media Pewarta Teknologi
Informasi Indonesia, 2013). Menurut Selamatta Sembiring,jejaring sosial yang sering diakses masyarakat Indonesia yaitu Facebook
dan Twitter, sehingga Indonesia mendapatkan peringkat ke Empat
pengguna internet terbesar setelah USA, Brasil, dan India (Media
Pewarta Teknologi Informasi Indonesia, 2013).
Uraian tersebut dapat membawa dampak
positif serta negatif bagi masyarakat Indonesia. Banyak penelitian yang
mengungkapkan berbagai dampak negatif dan positif bagi penggunanya. Secara umum
dampak negatif dari media sosial antara lain menimbulkan efek ketergantungan. Secara tidak langsung kita dituntut untuk meluangkan
waktu yang lebih, bahkan terkadang kita bisa
menghabiskan waktu serta menimbulkan rawan pencurian data pribadi dengan
adanya hacker.
Selain itu terdapat dampak positif
antara lain memudahkan pengguna membentuk jaringan sosial.
Misalnya, bisa berinteraksi dengan teman lama yang jauh atau teman yang saat
ini tanpa ada batasan jarak dan waktu, meskipun tidak bertatap muka secara
langsung. Bahkan kita dapat berinteraksi dengan orang yang belum pernah
berjumpa namun dipertemukan pada jejaring sosial. Selain itu media
sosial dapat digenakan untuk mempromosikan barang yang dijual atau bidang jasa
lainnya dan lain sebagainya.
Menurut Dir Reskrimsus Subdit Mondev
unit cybercrime Polda Jatim,tahun 2012
hingga bulan Mei tercatat 15 kasus di Jatim. Ke-15 kasus itu yang paling
menonjol adalah kasus penipuan belanja online dan penghinaan
melalui sosial media Facebook (FB). Sementara kasus lainnya
berupa kesusilaan, pengancaman serta hacker (Khariri, 2013).
Tak ada yang salah memang jika orang
Indonesia konsumtif terhadap jejaring sosial. Yang menjadi problem adalah
perubahan gaya komunikasi dan karakter masyarakat yang berkembang ke arah narsis dan alay,
bukan komunikasi yang edukatif dan informatif. Kini jejaring sosial
lebih menjadi suatu media/alat untuk mencari popularitas dan eksistensi belaka.
Berbagai
status dan twit alay menghiasi timeline setiap
waktu. Mulai dari yang penting sampai yang sama sekali tidak penting.
Diskusi-diskusi di forum online dengan komentar-komentar sarkastik
juga kerap menghiasi jejaring sosial. Kalimat-kalimat satir pun bertebaran
bebas di sosial media bahkan kadang mengundang kontroversi.
Ada
satu fenomena unik yang bisa diamati disini, yaitu kebebasan berbicara. Mereka
yang di dunia nyata takut berpendapat seakan mendapat ruang untuk berekspresi
lewat jejaring sosial. Tapi di sisi lain, karena terlalu bebasnya berekspresi sampai-sampai
orang lupa etika berpendapat. Kata-kata bullying tak jarang
muncul menghiasi kolom komentar di sebuah forum online. Tanpa
basa-basi dan memperhitungkan dampak negatif dari pendapat sarkastik tersebut.
Ketika
di facebook banyak orang yang berani berbicara, mengomentari
status secara frontal. Bahkan pada saat di sosial media orang tersebut bisa
dibilang cukup asyik. Namun pada dunia yang sebenarnya, apabila dalam
berdiskusi tidak berani megemukakan pendapat. Orang tersebut cenderung pasif.
Ketika seseorang asyik mengobrol
dengan temannya di facebook, meskipun belum pernah bertemu
didunia nyata, orang tersebut merasa dekat dengan lawan bicaranya karena mereka
merasa ada kecocokan dalam berbicara. Maka pada suatu ketika orang tersebut
akan menjalin hubungan yang lebih lanjut dengan ingin bertemu langsung.




0 komentar:
Posting Komentar